Lintasharian.com – Peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) berlangsung khidmat di Gedung Kesenian Baturaja, Kamis (27/11/2025). Ribuan guru dari berbagai satuan pendidikan memenuhi gedung untuk mengucapkan Ikrar Guru Indonesia dan meneguhkan kembali kode etik profesi mereka.
Usai acara, Bupati OKU H Teddy Meilwansyah S.STP., M.M., M.Pd menyampaikan pandangannya kepada Lintasharian.com tentang peran guru di tengah perubahan zaman. Teddy menegaskan bahwa peringatan Hari Guru bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ruang untuk menilai kembali sejauh mana perhatian daerah terhadap kesejahteraan dan kompetensi guru.
Menurut Teddy, keberhasilan perjalanan kariernya pun tidak lepas dari peran para pendidik. “Saya selalu mengatakan, tanpa guru mungkin saya tidak akan berdiri di sini hari ini. Guru bukan hanya mengajar, tetapi membentuk cara berpikir, membangun karakter, dan memberikan arah hidup,” ujarnya.
Dalam percakapan tersebut, Teddy menekankan bahwa tantangan guru saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu. Transformasi digital, menurutnya, menuntut guru untuk terus beradaptasi dan menguasai teknologi dalam proses belajar mengajar. “Perubahan ini sangat cepat. Karena itu guru harus terus meng-upgrade kemampuan. Kita tidak boleh membiarkan mereka berjalan sendiri,” katanya.
Teddy mengungkapkan bahwa Pemkab OKU telah menyiapkan program peningkatan kompetensi berbasis teknologi, mulai dari pelatihan pembuatan bahan ajar digital, kemampuan analisis pembelajaran, hingga literasi digital tingkat dasar dan lanjutan. “Kalau guru tertinggal secara digital, maka anak-anak kita juga akan tertinggal,” lanjutnya.
Soal perlindungan hukum, Teddy menyampaikan keprihatinannya sekaligus gagasan pembentukan satuan pendamping hukum bagi guru. Ia mengatakan bahwa beberapa kasus di Indonesia menunjukkan profesi guru rawan kriminalisasi. “Guru harus mengajar tanpa rasa takut. Untuk itu perlu ada payung hukum yang jelas. Saya sudah meminta Dinas Pendidikan untuk berkoordinasi dengan Kejari dan APH, agar pendampingan bisa lebih sistematis,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Teddy juga mengenang almarhumah Saidatul Fitriyah, guru SMPN 46 OKU yang menjadi korban kekerasan beberapa waktu lalu. Dengan suara berat ia menyampaikan, “Saya ingin peristiwa itu menjadi yang terakhir. Kita tidak boleh tinggal diam. Mari doakan almarhumah ditempatkan di tempat terbaik.”
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan OKU Kadarisman S.Ag., M.Si, juga memberikan keterangan panjang mengenai kondisi pendidikan dan guru di OKU. Ia menjelaskan bahwa tema tahun ini, “Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas,” menjadi pengingat bahwa kualitas guru menentukan arah masa depan generasi.
Kadarisman menegaskan bahwa kegiatan peringatan Hari Guru tahun ini merupakan hasil gotong royong para guru. Ia juga mengungkap data terbaru jumlah tenaga pendidik yang terdaftar di Dapodik sebanyak 5.323 guru, mulai dari PAUD hingga SMP. Dari jumlah itu, 1.795 guru merupakan PNS, 1.545 guru P3K, dan 1.983 guru P3K paruh waktu serta guru tidak tetap.
Dalam wawancara lebarnya, Kadarisman mengakui bahwa meski sebagian besar guru masih berstatus non-PNS, kontribusi mereka sangat besar bagi pendidikan di OKU. “Kita tahu mereka bekerja dengan dedikasi yang luar biasa. Itu sebabnya kami terus memperjuangkan peningkatan status dan kesejahteraan mereka. Harapan kita, ke depan ada regulasi yang memungkinkan mereka beralih menjadi PNS,” ungkapnya.
Kadarisman juga menjelaskan bahwa tingkat pendidikan guru di OKU cukup beragam. Saat ini sebanyak 158 guru telah menyelesaikan pendidikan S2, sementara 4.517 lainnya berpendidikan S1 dan D4, serta 684 guru masih lulusan D3 dan SLTA. Ia menyebut hal tersebut sebagai tantangan besar untuk peningkatan kompetensi ke depan. “Ini menjadi pekerjaan rumah kami. Kami sedang menyiapkan skema beasiswa dan fasilitas khusus agar lebih banyak guru bisa melanjutkan pendidikan,” katanya.(*)
