Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Palembang Terapkan Nilai Pancasila di Kelurahan Sekarjaya OKU

Lintasharian.com, Baturaja – Nilai-nilai Pancasila tidak hanya berhenti sebagai dasar negara, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Gagasan itu menjadi bagian dari kegiatan yang dilakukan Dewi Syahfitri Nasution, mahasiswi Poltekkes Kemenkes Palembang Program Studi D4 Kebidanan RPL Lokus OKU dengan NIM: PO7124226215 di Kelurahan Sekarjaya, Kecamatan Baturaja Timur.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk melihat sekaligus mendorong penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Dewi menempatkan lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai ruang penting untuk membangun sikap saling menghormati, peduli, bergotong royong, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis di tengah keberagaman warga.

Menurut Dewi, penerapan Pancasila seharusnya dilakukan melalui tindakan sederhana yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap dan perbuatan yang mencerminkan nilai kemanusiaan, persatuan, serta keadilan,” kata Dewi.

Nilai sila pertama dapat diterapkan dengan menghormati kebebasan setiap warga dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya. Sikap saling menghargai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang damai. Perbedaan keyakinan, menurut Dewi, semestinya menjadi alasan untuk saling menghormati, bukan menjadi sumber perpecahan.

Sementara sila kedua tercermin melalui kepedulian terhadap sesama. Sikap membantu warga yang membutuhkan, menghargai orang lain, tidak melakukan diskriminasi, serta menjaga tutur kata merupakan bentuk sederhana dari penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Hal tersebut juga relevan dengan kehidupan sosial masyarakat di lingkungan Kelurahan Sekarjaya.

Dewi juga mendorong penerapan sila ketiga melalui semangat persatuan. Warga diajak untuk tidak mudah terpecah oleh perbedaan latar belakang, pendapat maupun kepentingan. Menjaga kerukunan lingkungan, bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik dinilai menjadi cara nyata untuk memperkuat persatuan di tingkat masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, proses pengambilan keputusan juga dapat menjadi ruang untuk menerapkan sila keempat. Musyawarah menjadi sarana bagi warga menyampaikan pendapat sekaligus mendengarkan pandangan orang lain. Dengan cara itu, keputusan bersama tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan pribadi, melainkan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat.

Penerapan nilai musyawarah juga dapat dimulai dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga. Setiap anggota keluarga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat sebelum keputusan diambil bersama. Pola tersebut dinilai dapat membentuk kebiasaan demokratis sejak dini dan mendorong masyarakat untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog.

Adapun sila kelima diwujudkan melalui sikap adil dalam kehidupan sosial. Setiap warga memiliki hak dan kewajiban yang perlu dihormati tanpa membedakan status sosial maupun latar belakang. Dewi menekankan bahwa keadilan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti berbagi, tidak mengambil hak orang lain dan memperlakukan setiap orang secara setara.

Sebagai mahasiswi kebidanan, Dewi juga mengaitkan nilai Pancasila dengan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan keluarga dan lingkungan merupakan bagian dari kepedulian sosial. Pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dapat dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar lingkungan kampus. Dewi memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana nilai-nilai kebangsaan dapat diterjemahkan menjadi perilaku nyata di tengah masyarakat. Interaksi langsung dengan warga membuat pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi berkaitan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Penerapan nilai Pancasila juga dapat terlihat melalui kegiatan gotong royong di lingkungan tempat tinggal. Membersihkan lingkungan, membantu tetangga, menjaga fasilitas umum dan berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan contoh perilaku yang memperkuat rasa kebersamaan. Gotong royong menjadi salah satu cara menjaga hubungan sosial tetap hidup.

Dewi berharap penerapan nilai Pancasila tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial. Ia menilai perubahan justru dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Saya berharap nilai-nilai Pancasila dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal dan kemudian berkembang dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Bagi masyarakat Kelurahan Sekarjaya, penerapan nilai Pancasila menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan sosial yang tertib, rukun dan saling menghargai. Peran generasi muda, termasuk mahasiswa, dinilai penting dalam menghidupkan kembali praktik gotong royong, kepedulian sosial, musyawarah dan penghormatan terhadap perbedaan.

Kegiatan Dewi Syahfitri Nasution menunjukkan bahwa Pancasila dapat hadir dalam tindakan yang sederhana. Dari menghormati sesama, menjaga persatuan, membantu warga, bermusyawarah hingga memperhatikan kesehatan lingkungan, nilai dasar negara dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi itu pada akhirnya kembali pada kesadaran setiap individu untuk mempraktikkannya secara nyata. (*)