Lintasharian.com, Yogyakarta – Upaya Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dalam mencari solusi penanganan sampah terus dilakukan secara serius. Tidak hanya mengandalkan konsep di atas kertas, Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah, S.STP., M.M., M.Pd turun langsung mengajak para camat, lurah, dan ketua RT untuk melihat praktik pengelolaan sampah yang telah berhasil diterapkan masyarakat di RT 05 Mangkuyudan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari langkah Pemkab OKU untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang tidak hanya mampu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan warga.
Di kawasan Mangkuyudan, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah telah menjadi budaya. Warga terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran diolah melalui lubang biopori yang tersedia di pekarangan rumah masing-masing. Proses penguraian dipercepat dengan penambahan molase sehingga tidak menimbulkan bau dan menghasilkan kompos yang berkualitas.
Kompos tersebut dipanen secara berkala setiap tiga bulan dan dimanfaatkan untuk menyuburkan berbagai tanaman produktif yang tumbuh di halaman rumah maupun sepanjang lorong permukiman. Beragam sayuran seperti cabai, tomat, terong, dan tanaman pangan lainnya menjadi sumber kebutuhan harian masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan keluarga.
Tak hanya itu, hasil pengolahan sampah organik juga dimanfaatkan oleh Dinas Lingkungan Hidup setempat sebagai pupuk alami. Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual, seperti plastik dan bahan daur ulang lainnya, dikumpulkan melalui bank sampah untuk kemudian dipasarkan kembali.
Bupati OKU Teddy Meilwansyah mengaku terkesan dengan pola pengelolaan sampah yang dijalankan masyarakat setempat. Menurutnya, konsep yang terlihat sederhana tersebut justru menjadi kunci keberhasilan karena diterapkan secara konsisten oleh seluruh warga.
“Kadang kita menganggap hal seperti ini sederhana. Namun jika tidak dimulai dan dijalankan bersama, maka manfaatnya tidak akan pernah dirasakan. Karena itu saya sengaja mengajak camat, lurah, dan ketua RT agar bisa melihat langsung bagaimana sistem ini bekerja di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap para peserta kunjungan tidak hanya meniru konsep yang ada, tetapi juga mampu mengembangkan dan menyesuaikannya dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di Kabupaten OKU.
Sebagai langkah awal, Pemkab OKU berencana menerapkan program serupa di Kecamatan Baturaja Timur sebagai wilayah percontohan. Jika berjalan efektif, pola pengelolaan sampah tersebut akan diperluas ke kecamatan lain di Kabupaten OKU.
“Targetnya bukan hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menjadikan sampah memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi. Di sisi lain, pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran juga dapat memperkuat ketahanan pangan masyarakat,” jelas Teddy.
Komitmen Pemkab OKU dalam mengatasi persoalan sampah sebelumnya juga ditunjukkan melalui berbagai studi lapangan ke sejumlah daerah. Salah satunya dengan mengunjungi fasilitas pengolahan sampah RDF Plant Jakarta guna mempelajari teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Bupati berharap ke depan sistem pengelolaan sampah di Kabupaten OKU dapat terintegrasi mulai dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan modern. Dengan pendekatan tersebut, persoalan sampah tidak hanya dapat ditekan, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut turut hadir Asisten III Setda OKU H. Romson Fitri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup OKU Brigman, Kepala Bappelitbangda OKU Yoyin Arifianto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan M. Darojatun, para camat, lurah, ketua RT, serta Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan (*)
