“Guru Buat Aturan Sepihak, Siswa Sempat Dikeluarkan dari Kelas

OKU, PENDIDIKAN714 Dilihat

Lintasharian.com – Dunia pendidikan dihebohkan dengan ulah seorang guru di SDN 1 OKU yang diduga membuat aturan sendiri hingga menyebabkan seorang siswa dikeluarkan dari kelasnya. Kejadian ini menuai protes dari orang tua siswa.

Insiden bermula pada Senin, 21 Juli 2025, saat jam istirahat siang. Seorang guru wali kelas 2B didatangi wali murid yang ingin mengklarifikasi kesepakatan kelas. Anak dari wali murid tersebut diketahui tidak masuk sekolah selama tiga hari karena sakit.

Menurut informasi, klarifikasi awal di ruang guru berjalan cukup baik. Namun, dua hari kemudian, tepatnya Rabu, wali murid kembali datang karena mendapati anaknya dikeluarkan dari kelas. Atas kejadian tersebut, wali murid menghadap kepala sekolah untuk menanyakannya. Dan terjadilah pertemuan antara, kepala sekolah, 3 orang guru SDN 1 OKU, wali murid, untuk menengahi dan menyelesaikan persoalan tersebut, namun tidak membuahkan hasil.

“Saya sudah mencoba menyelesaikan dengan bijak. Bahkan sudah meminta maaf secara pribadi,” ujar Kepala SDN 1 OKU, Drs. Amrullah SPd.I, MM., saat dikonfirmasi, Kamis (24/7).

Namun, masalah tak kunjung selesai. Wali murid menilai keputusan sang guru memberhentikan anak dari kelas tanpa dasar yang jelas sangat merugikan. Guru tersebut dinilai membuat aturan sendiri yang tidak sejalan dengan kebijakan sekolah.

Kepala sekolah akhirnya memutuskan untuk memindahkan siswa tersebut ke kelas 2A agar proses belajar tetap berjalan dan tidak menimbulkan ketegangan lebih lanjut.

Pihak sekolah pun tak tinggal diam. Permasalahan ini telah dikoordinasikan ke Dinas Pendidikan OKU dan Polres OKU untuk mediasi dan penyelesaian secara bijak.

“Alhamdulillah, anak yang sempat dikeluarkan kini sudah kembali bersekolah seperti biasa. Kami akan terus melakukan pendampingan agar suasana belajar tetap kondusif. Sementara untuk guru tersebut kita serahkan kebijakan kepada dinas pendidikan,” ujar Amrullah.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa koordinasi dan komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua sangatlah krusial. Sekolah diharapkan menjadi tempat yang aman dan nyaman, bukan malah menjadi ajang ego personal yang merugikan peserta didik.(*)