Berkat Struktur Benuang, Produksi Minyak PEP Adera Tembus Rekor 5.214 BOPD

Ekonomi, Sumsel75 Dilihat

Lintasharian.com, Prabumulih – PT Pertamina EP (PEP) Adera Field kembali menorehkan prestasi gemilang. Lapangan migas yang berada di bawah pengelolaan PEP Zona 4 itu berhasil mencetak rekor produksi minyak tertinggi sepanjang sejarah, yakni 5.214 barel per hari (BOPD), berkat optimalisasi pengembangan Struktur Benuang.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak Adera Field dikelola Pertamina pada 1983, sekaligus memperkuat kontribusi Zona 4 dalam menjaga pasokan energi nasional.

General Manager PEP Zona 4, Djudjuwanto, menyebut lonjakan produksi ini merupakan hasil dari strategi pengembangan lapangan yang konsisten, terukur, serta didukung penerapan teknologi terbaru.

“Keberhasilan pengeboran di Cluster Benuang membawa Adera Field mencapai puncak produksi 5.214 BOPD pada September 2025. Ini menjadi milestone penting bagi kami,” ujar Djudjuwanto, Selasa (20/1/2026).

Tak hanya minyak, kinerja produksi gas di Adera Field juga menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga 30 November 2025, produksi gas tercatat mencapai 19,15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) atau 233 persen dari target RKAP 2025.

Menurut Djudjuwanto, capaian tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, pelaksanaan Asta Cita Pemerintah, serta target produksi nasional 1 juta barel minyak per hari pada 2030.

Struktur Benuang sendiri bukanlah lapangan baru. Area ini mulai berproduksi sejak 1941 dan sempat mencapai puncak produksi pada 1984 dengan capaian 3.189 BOPD minyak dan 80 MMSCFD gas. Namun, seiring penurunan alami reservoir, produksi migas di wilayah tersebut terus menurun.

Pertamina kemudian melakukan langkah strategis sejak 2017 melalui berbagai kegiatan well intervention dan well service. Hasilnya, kinerja produksi kembali meningkat. Pada 2024, produksi minyak di Struktur Benuang tercatat sebesar 3.118 BOPD, sedangkan produksi gas mencapai 15,23 MMSCFD.

Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan produksi kian signifikan berkat penerapan metode batch drilling onshore, yang untuk pertama kalinya diterapkan pada lapangan darat di Struktur Benuang.

Metode ini memungkinkan pengeboran dilakukan secara berkelompok dalam satu lokasi, sehingga rig dapat berpindah dari satu sumur ke sumur lainnya tanpa perlu pembongkaran ulang peralatan. Skema ini terbukti lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.

Selain itu, PEP Zona 4 juga mengimplementasikan inovasi Sectorization Zoning Model (SZM). Metodologi ini digunakan untuk memetakan zona reservoir potensial berdasarkan kualitas batuan dan kandungan hidrokarbon melalui peta Hydrocarbon Pore Volume (HCPV).

Dari sisi teknologi produksi, Pertamina turut memanfaatkan Velocity String, yakni pemasangan pipa berdiameter kecil di dalam tubing produksi guna meningkatkan kecepatan aliran fluida dari reservoir ke permukaan.

Teknologi ini memungkinkan beberapa lapisan reservoir diproduksikan secara simultan dan mandiri, sehingga produksi menjadi lebih optimal dengan biaya operasional yang relatif rendah.

Velocity String pertama kali diterapkan di Zona 4 melalui kegiatan workover sumur BNG-068 pada Desember 2025. Teknologi ini diproyeksikan menambah produksi sekitar 83 BOPD minyak dan 3,82 MMSCFD gas.

Di penghujung 2025, Adera Field juga mengoperasikan empat sumur baru, yakni BNG-B6, ABB-T5, ABB-T2, dan ABB-U1. Keempat sumur tersebut berpotensi menambah produksi minyak hingga 388 BOPD dan gas sekitar 1,8 MMSCFD.

Djudjuwanto menegaskan, seluruh capaian ini tidak lepas dari kerja keras tim serta dukungan para pemangku kepentingan.

“Kami mengapresiasi dukungan pemerintah, masyarakat, dan seluruh mitra kerja. Pencapaian ini merupakan bagian dari upaya Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Ia juga memastikan seluruh kegiatan operasional dilakukan dengan tetap mengedepankan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE).

“PEP Zona 4 berkomitmen meningkatkan produksi migas dengan tetap menjunjung tinggi aspek HSSE serta tata nilai AKHLAK,” pungkas Djudjuwanto.(*)