Lintasharian.com, Baturaja — Di tengah maraknya tes kemampuan bahasa asing seperti TOEFL, keberadaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) ternyata masih belum banyak dikenal. Kondisi ini mendorong Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan menggelar sosialisasi sekaligus pelaksanaan Tes UKBI Adaptif bagi para pemangku kepentingan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 Mei 2026 di Hotel BIL Baturaja ini diikuti sebanyak 35 peserta, terdiri dari guru, kepala sekolah, jurnalis, dosen, peneliti, hingga mahasiswa. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Desi Ari Pressanti, S.S., M.Hum., Kepala Dinas Pendidikan OKU, Kadarisman, S.Ag., M.Si., Kabid PTK Disdik OKU, Tammeiri, S.H., M.M., serta Kasi PTK SD Disdik OKU, Sahri, S.E., M.Pd.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Desi Ari Pressanti, mengungkapkan bahwa sosialisasi ini dilatarbelakangi masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap UKBI sebagai alat ukur resmi kemahiran berbahasa Indonesia.
“Selama ini orang lebih familiar dengan TOEFL untuk bahasa Inggris. Padahal kita juga memiliki UKBI sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan berbahasa Indonesia, namun belum banyak yang mengetahuinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, UKBI Adaptif merupakan tes berbasis digital yang seluruh materinya menggunakan bahasa Indonesia. Sistemnya dirancang menyerupai tes bahasa asing, dengan beberapa tahapan seperti mendengarkan, merespons kaidah atau struktur bahasa, serta membaca.
“Tes ini dilakukan secara daring. Peserta bisa mendaftar sendiri, memilih jadwal, dan mengerjakannya secara mandiri, sehingga lebih fleksibel,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada UKBI, tetapi juga diajak memahami pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasil tes nantinya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi diri bagi setiap peserta.
“Dari hasil itu akan muncul kesadaran, sejauh mana kemampuan kita. Jika masih kurang, tentu akan menjadi motivasi untuk belajar dan memperbaiki cara berbahasa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan OKU, Kadarisman, menilai pelaksanaan UKBI sangat penting, terutama bagi tenaga pendidik yang berperan langsung dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi utama. Jika digunakan dengan baik dan benar, maka pesan yang disampaikan akan mudah dipahami. Sebaliknya, jika tidak sesuai kaidah, bisa menimbulkan kesalahpahaman,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang diberikan secara gratis oleh Balai Bahasa, serta berharap para peserta dapat mengikuti kegiatan dengan serius dan fokus.
“Ini kesempatan yang sangat baik. Kami berharap peserta bisa mengikuti dengan sungguh-sungguh, lalu menularkan pengetahuan ini kepada rekan sejawat dan juga kepada siswa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kadarisman menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi juga harus berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.
“Ke depan, UKBI juga diharapkan bisa diterapkan kepada siswa sebagai bagian dari penguatan kemampuan literasi. Ini sekaligus menjadi langkah awal untuk memetakan kemahiran berbahasa Indonesia di dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten OKU,” pungkasnya.
Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia semakin meningkat, serta mendorong penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat luas. (jpn)
