Lintasharian.com, Baturaja – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tancap gas mempersiapkan penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA) tahun 2026. Targetnya tak main-main, yakni naik level dari predikat Madya menjadi Nindya.
Komitmen tersebut ditegaskan Bupati OKU H Teddy Meilwansyah melalui Asisten I Setda OKU, Indra Susanto, saat membuka sosialisasi persiapan penilaian KLA 2026 di Ruang Abdi Praja, Rabu (1/4/2026).
Menurut Indra, penilaian KLA menjadi momen penting untuk memperkuat komitmen daerah dalam memenuhi hak anak sekaligus meningkatkan kualitas hidup generasi penerus.
“Ini bukan sekadar penilaian, tapi bagaimana kita memastikan anak-anak di OKU tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung,” ujarnya.
Kegiatan yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) OKU ini diikuti seluruh gugus tugas KLA, serta dihadiri unsur Kejari OKU, Bapas, Pengadilan Negeri Baturaja, Pengadilan Agama Baturaja, dan instansi terkait lainnya.
Kepala Dinas PPPA OKU, Iis Wahyu Ningsih, menjelaskan kegiatan ini bertujuan menyatukan persepsi sekaligus memperkuat sinkronisasi program antar perangkat daerah dalam memenuhi indikator KLA.
Ia menyebut, OKU telah memiliki landasan kuat melalui Perda Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kabupaten Layak Anak. Dengan capaian predikat Madya pada 2025, pihaknya optimistis bisa naik ke tingkat Nindya.
“Minimal kita pertahankan Madya, tapi target bersama adalah Nindya 2026,” tegasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, terdapat 24 indikator yang terbagi dalam lima klaster utama penilaian KLA.
Klaster pertama menyangkut kelembagaan, meliputi keberadaan regulasi, penguatan gugus tugas, peran masyarakat, dunia usaha dan media, hingga ketersediaan data dan partisipasi anak.
Klaster kedua berfokus pada lingkungan keluarga, seperti pencegahan perkawinan anak, layanan konsultasi keluarga, PAUD Holistik Integratif, hingga sarana prasarana ramah anak.
Klaster ketiga mencakup pemenuhan kesehatan dasar dan kesejahteraan anak.
Sementara klaster keempat terkait perlindungan khusus, termasuk layanan bagi anak korban kekerasan, eksploitasi, bencana, hingga penanganan anak berhadapan dengan hukum.
Adapun klaster kelima meliputi pendidikan, pemanfaatan waktu luang, serta pengembangan budaya dan kreativitas anak, termasuk wajib belajar 12 tahun dan sekolah ramah anak.
“Untuk beberapa indikator seperti dokumen kependudukan anak dan regulasi daerah, kita sudah cukup baik. Tinggal penguatan di sektor lain,” jelasnya.
Indra menambahkan, keberhasilan KLA membutuhkan keterlibatan seluruh pihak lintas sektor. Ia pun meminta seluruh OPD segera menginventarisasi fasilitas ramah anak dan memperkuat program yang mendukung pemenuhan indikator.
“Anak adalah fondasi masa depan bangsa. Karena itu, kita harus serius menyiapkan dari sekarang, sebagai bagian dari menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Dengan sinergi yang terus diperkuat, Pemkab OKU optimistis mampu meningkatkan capaian indikator dan meraih predikat Nindya pada 2026. (*)
