Dari Resah Harga Pangan, Ibu-Ibu di Prabumulih Sukses Ubah Pekarangan Jadi Sumber Pangan dan Penghasilan

Ekonomi, Profil, Sumsel125 Dilihat

Lintasharian.com, Prabumulih – Kenaikan harga bahan pokok kerap membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak. Di tengah situasi itu, sekelompok perempuan di Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih, memilih tidak sekadar mengeluh. Mereka bangkit, mengubah lahan kosong menjadi kebun produktif yang kini menopang kebutuhan dapur hingga menambah penghasilan keluarga.

Adalah Tri Ningsih (57), Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, yang awalnya resah karena saban pekan harus mengeluarkan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk belanja. Ia lalu melirik pekarangan rumahnya yang lama terbengkalai. Niat menanam sempat muncul, namun keterbatasan pengetahuan membuat hasilnya tak maksimal.

Momentum perubahan datang saat Pertamina EP Prabumulih Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, menggulirkan program MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah). Program tersebut mendorong kemandirian pangan berbasis lingkungan melalui pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga, pengolahan tanaman obat keluarga (TOGA), hingga strategi pemasaran produk.

Tri Ningsih bersama 30 anggota KWT Kemuning mengikuti pelatihan tersebut. Mereka belajar memanfaatkan sisa sayur, air cucian beras, dan sampah organik menjadi pupuk kompos. Pengetahuan sederhana itu menjadi titik balik.

Pekarangan yang sebelumnya dipenuhi ilalang kini ditanami aneka sayuran, umbi-umbian, buah-buahan, dan tanaman obat. Dengan pupuk organik racikan sendiri, tanaman tumbuh lebih subur dan terawat.

Hasilnya terasa nyata. Kebutuhan dapur tak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar. Pengeluaran belanja mingguan pun berangsur berkurang. Bahkan, hasil panen diolah menjadi produk bernilai jual seperti wedang beras kencur, kunyit asam instan, jamu seduh, hingga bibit tanaman siap tanam yang dipasarkan Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kemasan. Dari usaha rumahan itu, omzet kelompok menembus sekitar Rp1 juta per bulan.

“Yang penting kami kompak dan terus belajar. Tantangan justru jadi motivasi. Kami ingin ibu-ibu lain juga bisa mandiri dari rumah,” ujar Tri Ningsih.

Kini, KWT Kemuning tak hanya mandiri, tetapi juga menjadi rujukan. Sebanyak 13 KWT lain di Prabumulih datang untuk belajar pengelolaan pekarangan, pembuatan pupuk organik, hingga pengolahan hasil panen. Dari tanah tidur, lahir harapan baru—bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari halaman rumah sendiri.(*)