Lintasharian.com, Baturaja – Sebanyak 496 siswa SMAN 4 OKU mengikuti Ujian Sumatif Akhir Semester (SAS) Genap berbasis Android yang berlangsung pada 2 hingga 11 Juni 2026. Peserta ujian terdiri dari 248 siswa kelas X dan 248 siswa kelas XI. Pelaksanaan ujian digital ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses penilaian yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.
Pelaksanaan ujian berbasis Android di SMAN 4 OKU bukan hal baru. Sekolah ini telah membangun jaringan pendukung sejak 2017 dan mulai menerapkan sistem ujian digital pada 2018. Hingga kini, metode tersebut terus digunakan untuk berbagai kegiatan penilaian akademik.
Kepala SMAN 4 OKU, Hj. Jumiati, S.Pd., M.M., mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan sebelum ujian dimulai. Guru mata pelajaran terlebih dahulu menyusun soal yang kemudian diunggah ke server sekolah. Panitia juga melakukan pengecekan jaringan lokal, server, serta menyiapkan akun peserta berupa username dan password bagi seluruh siswa.
“Semua persiapan sudah dilakukan sejak jauh hari. Kami memastikan server, jaringan, dan aplikasi ujian dapat digunakan dengan baik sehingga pelaksanaan ujian berjalan lancar,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menggunakan aplikasi PUMA (Penilaian Ujian Media Android). Melalui aplikasi tersebut, siswa dapat mengerjakan soal menggunakan perangkat Android yang terhubung ke jaringan lokal sekolah.
Menurut Jumiati, penerapan sistem digital memberikan banyak manfaat dibandingkan ujian berbasis kertas. Selain mengurangi penggunaan kertas dalam jumlah besar, hasil ujian juga dapat diketahui lebih cepat karena seluruh data tersimpan secara otomatis di server.
“Guru tidak perlu lagi mengoreksi lembar jawaban secara manual. Hasil ujian dapat diakses dengan lebih mudah sehingga proses evaluasi menjadi lebih cepat dan efisien,” katanya.
Tak hanya digunakan untuk ujian semester, aplikasi tersebut juga dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan akademik lainnya, seperti penilaian harian, sumatif akhir jenjang, hingga pelaksanaan tes pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Meski berbasis teknologi, sekolah tetap mengantisipasi kemungkinan kendala teknis selama ujian berlangsung. Salah satu tantangan yang kerap ditemui berasal dari perangkat yang digunakan peserta.
Karena ujian menggunakan jaringan lokal sekolah, siswa diminta mencabut kartu seluler dari perangkat masing-masing agar koneksi dapat terhubung dengan sistem yang telah disiapkan panitia. Selain itu, sekolah juga menyiapkan sejumlah perangkat cadangan dan laboratorium komputer sebagai alternatif apabila ada siswa yang mengalami kendala.
Untuk mengantisipasi gangguan listrik, sekolah telah menyiapkan genset sehingga server tetap dapat beroperasi dan proses ujian tidak terganggu.
“Kalau terjadi pemadaman listrik, server masih bisa berjalan menggunakan genset. Kami juga sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar ujian tetap berlangsung dengan baik,” jelasnya.
Pihak sekolah juga menerapkan pengawasan ketat guna menjaga kejujuran peserta. Siswa yang kedapatan membawa lebih dari satu perangkat atau melakukan kecurangan saat ujian akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
“Kejujuran tetap menjadi hal yang utama. Jika ada pelanggaran, tentu akan ditindak sesuai ketentuan sekolah,” tegas Jumiati.
Menurutnya, respons siswa terhadap pelaksanaan ujian berbasis Android cukup positif. Selain lebih praktis, siswa juga sudah terbiasa menggunakan perangkat digital dalam kegiatan belajar sehari-hari sehingga dapat beradaptasi dengan cepat.
Ke depan, SMAN 4 OKU berharap digitalisasi pendidikan terus mendapat dukungan, termasuk melalui bantuan perangkat tablet atau perangkat pendukung lainnya yang dapat digunakan peserta didik saat ujian.
Jumiati memastikan sistem ujian berbasis Android akan terus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang karena dinilai mampu meningkatkan efektivitas pelaksanaan ujian sekaligus mendukung perkembangan teknologi di dunia pendidikan.
“Kami berharap pemanfaatan teknologi di sekolah semakin berkembang. Yang terpenting, siswa tetap menjaga kedisiplinan, mematuhi aturan, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap proses pembelajaran maupun ujian,” pungkasnya. (jpn)
